SMS/Telp   085363359962

Home » Tempat Wisata » Museum Rumah Adat Baanjuang Bukittinggi

Museum Rumah Adat Baanjuang Bukittinggi

Museum rumah adat baanjuang bukittinggi

Tepat pada tanggal 1 Juli tahun 1935 adalah sebuah hari yang bersejarah, dimana pada hari itu museum yang dikenal dengan nama Museum Rumah Adat Baanjuang ini dibangun. Pada saat itu, Republik Indonesia masih di jajah Belanda. Museum ini dibangun oleh Mr. Mondelar Countrouller. Nama museum sempat berubah nama menjadi Museum Baanjuang. Setelah negara merdeka, nama museum ini kembali berubah menjadi Museum Bundo Kanduang.

Museum Rumah Adat Baanjuang Bukittinggi

Tapi tidak sampai disitu saja, hal tersebut merasa belum tepat menurut beberapa pihak. Pada akhirnya, pemerintah daerah setempat menetapkan nama museum tersebut menjadi Museum Rumah Adat Baanjuang, berdasarkan ketetapan yang dibuat oleh pemerintah daerah Kota Bukittinggi pada tahun 2005, sekaligus dikelola dibawah Dinas Pariwisata, Seni, dan Kebudayaan Kota Bukittinggi

Arsitektur museum ini menyerupai bentuk Rumah Adat Minangkabau, yaitu Rumah Gadang, dengan ciri khas anjungannya yang berada pada sisi kiri dan kanan rumah tersebut. Walaupun bangunan ini terlihat sederhana, tapi kesan yang ditampilkannya pun sangat berkelas. Padahal atapnya berbahan ijuk, dinding terbuat dari campuran kayu dan bambu, serta kayu yang menjadi bahan dasar utama lantai.

Museum ini membagi beberapa kategori koleksinya, seperti etnografi, numismatik, dan biologi. Disini juga terdapat beberapa replika peninggalan sejarah kebudayaan Minangkabau serta pajangan binatang yang telah mati kemudian diawetkan bersumber dari kebun binatang Bukittinggi , Kinantan.

Selain museum, kita bisa menjumpai binatang yang ada di kebun binatang Kinantan serta benteng Fort de Kock yang dipisahkan oleh Jembatan Limpapeh. Jangan sampai terlupakan mengabadikan momen bersama keluarga anda dengan berfoto ria ditempat ini.

The following two tabs change content below.

Komentar

One Response so far.

  1. […] Puncak menara pun yang telah mengalami perubahan beberapa kali. Mulai dari jaman Belanda, puncak menara berbentuk bulat dan tepat diatasnya berdiri patung ayam jantan. Kemudian berganti pada jaman Jepang, puncak menara dirubah menjadi kelenteng. Terakhir, setelah Indonesia merdeka, puncak menara dirubah ke bentuk Gonjong rumah adat Suku Minangkabau. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *