SMS/Telp   085363359962

Home » BukittinggiKu » Harimau Sumatera Mati, Kebun Binatang Bukittinggi Berduka

Harimau Sumatera Mati, Kebun Binatang Bukittinggi Berduka

Harimau Sumatera Mati

Rasanya belum lama ini Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) atau sering dikenal dengan Kebun Binatang Bukittinggi berbahagia berkat kelahiran 2 ekor anak harimau sumatera  pada tanggal 22 September 2014 lalu. Tidak berhenti sampai disitu saja, pemilihan nama ke dua anak harimau ini pun diselenggarakan melalui sebuah sayembara. Namun apalah daya, kebahagiaan itu sedikit memudar karena pada tanggal 11 Januari 2015 kemarin, seekor keluarga Harimau Sumatera bernama Sandy, mati setelah dirawat intensif selama 3 hari.

Harimau Sumatera Mati, Kebun Binatang Bukittinggi Berduka

Awalnya Sandy, si Harimau Sumatera ini tidak mau makan selama seminggu. Setelah melalui proses otopsi, barulah ditemukan penyebabnya. Kepala Seksi Pakan dan Kesehatan Satwa TMSBK Bukittinggi yaitu drh. Effi Silfia mengatakan, kematian Sandy disebabkan oleh penyakit sesak nafas yang diidapnya. Hal itu diperkuat dengan munculnya perikarditis yaitu peradangan yang terdapat dilapisan pelindung pada jantung. Biasa disebut juga dengan perikardium, jaringan tipis yang berfungsi membungkus jantung. Itulah yang mengakibatkan terjadinya sesak nafas.

Pembungkus jantung Harimau Sumatera itu mengalami infeksi, sehingga mengakibatkan perdangan. Tambah drh. Effi, “Ibarat luka, ada cairan yang menutup. Nah, cairan seperti itulah yang menutup jantung dan membuat harimau itu mengalami sesak nafas.” Pada saat menjalani rawat intensif, nafas Harimau Sumatera itu intensitasnya cendrung cepat dengan frekuensi mencapai 57 kali setiap menitnya . Sedangkan dalam keadaan normal saja harimau hanya bernafas dengan frekuensi 40 kali setiap menitnya.

Pada saat menanggulangi masalah sesak nafas harimau ini, tim dokter dari TMSBK juga berkoordinasi dengan berbagai pihak, diantaranya dengan dokter hewan Kota Bukittinggi serta dokter hewan dari beberapa kebun binatang yang ada di Jakarta.

Penyakit yang dialami oleh Sandy terkadang membaik sesaat setelah diberi obat, namun penyakitnya kambuh dengan cepat. Tim dokter hewan Bukittinggi belum bisa untuk memastikan penyebab dari munculnya penyakit yang diidap Harimau Sumatera ini. Dalam asumsinya, faktor cuaca yang selalu berubah sedikit banyaknya sangat mempengaruhi kondisi fisik Sandy. “Beberapa hari sebelum mati, Harimau itu sempat tidak memiliki selera makan. Bahkan disaat hujan, Harimau itu juga enggan masuk ke dalam kandang tertutup dan membuat kondisi fisiknya semakin lemah.” tutur Effi.

Sandy merupakan anak Harimau Sumatera yang berasal dari Kebun Binatang Taman Rimbo Provinsi Jambi. Dia dipindahkan ke TMSBK Bukittinggi pada tanggal 1 Mei 2013. Pada waktu itu usianya baru berumur tujuh bulan. Dia tidak didatangkan ke Bukittinggi tidak sendiri, melainkan bersama Sean. Sean dan Sandy disatukan dalam satu kandang. Padahal sebelumnya, pihak TMSBK berencana akan mengkondisikan kedua harimau ini agar jinak kepada pengunjung. Dengan kejadian ini, total Harimau Sumatera yang mati di kebun binatang Bukittinggi bertambah menjadi lima ekor.

Berdasarkan data WWF Indonesia, habitat Harimau Sumatera yang memiliki bahasa latin Panthera Tigris Sumatrae ini merupakan satu dari enam sub – spesies yang masih bertahan hidup. Jenis harimau ini juga termasuk dalam kategori satwa kritis karena terancam punah. Berdasarkan data tahun 2004, WWF Indonesia mencatat jumlah persebaran Harimau Sumatera di alam bebas tinggal lebih kurang 400 ekor.

Harimau Sumatera Mati, Kebun Binatang Bukittinggi Berduka

The following two tabs change content below.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *